Minggu, 21 September 2008

“Erma, kabar dia gimana ? da punya pacar lum?”

“Agh, males gua jawabnya.. Tanya aja sendiri….!”

“Ga bakal jawab dia, ma…”

“Gw males kl lw temenan ma gw Cuma gara gara mw manfaatin gw duank buat nanya dia”

Itu sekilas percakapan penulis dengan salah seorang teman setelah 10 menit percakapan. Percakapan di atas menggelitik penulis tentang arti pertemanan. Apakah latar belakang sebenarnya seseorang ingin berteman dengan seseorang lainnya yang akhirnya membentuk suatu kelompok ? Salahkah ASAS MANFAAT menjadi latar belakang itu? Atau memang kita (seharusnya) berteman dengan seseorang karena rasa TULUS ?

Asas Manfaat, asas ini kesannya kejam bila di pahami sekilas. Seperti mengekploitasi seseorang untuk kepentingan sendiri. Padahal jika memahami Asas ini lebih dalam akan berbeda persepsi yang timbul.

Sebuah teori menjelaskan latar belakang atau alasan mengapa kita mau berteman dengan orang lain yang akhirnya membentuk sebuah group (Kita berteman dengan individu individu lain akhirnya akan membentuk sebuah kelompok atau group.). Ada lima alasan( Organizational Behavior 12th Edition) :

  1. Security (Rasa Aman)

By joining a group, individuals can reduce the insecurity of “standing alone”. People feel stronger, have fewer self-doubts, and are more resistant to threats when they are part of group.

Teori diatas menyebutkan bahwa kita bereteman karena kita merasa akan lebih “aman” dalam menghadapi sesuatu bila secara bersama sama. Karena pada dasarnya manusia memiliki rasa takut, rasa takut itulah yang mendorong seseorang untuk berteman. Disini secara eksplisit asas manfaat berlaku.

  1. Status

Inclusion in a group that is viewed as important by others provides recognition and status for its members.

Orang hidup mencari status. Status membuat seseorang merasa memiliki percaya diri yang diinginkan. Contoh rill, remaja yang ingin disebut sebagai anak gaul akan cenderung mendekati orang yang memiliki wawasan pergaulan yang luas( so many/ much example).

  1. Self- esteem.(Penghargaan terhadap diri)

Dengan berteman seseorang akan merasa memiliki harga diri, rasa dihargai oleh individu lain.

  1. Affiliation

Orang berteman untuk memenuhi kebutuhan sosialnya.

  1. Power

Orang akan merasa lebih kuat atau mampu mencapai sesuatu yang dianggap tidak bisa dicapai sendiri dengan berteman. Contoh: Seorang pria mengejar seorang wanita hingga mencapai hampir 4 tahun, dan kebetulan pria tersebut memilki teman yang sama dengan perempuan itu. Sang pria tentu saja akan meminta bantuan temannya untuk bisa mendapatkan wanita tersebut. Salahkah menurut anda ?

  1. Goal Achievement

Seseorang berteman karena mungkin memiliki tujuan yang sama, dan merasa tujuan itu hanya dapat dicapai bila diusahakan bersama sama.

*Penulis menyebut 5 alasan diatas sebagai pemenuhan “manfaat”.

Jadi sebenarnya rasa saling membutuhkanlah yang mendorong manusia(kita) untuk berteman (bersosialisasi). Membutuhkan apa? Pemenuhan “Manfaat”.


Salahkah ?

Setelah tahu apa saja alasan kita mau berteman,Sekarang dapatkah asas manfaat disalahkan?

Tentu tidak sepanjang rasa manfaat yang kita minta tidak merugikan individu lain. Kasus di atas (percapakapan diatas) tidaklah termasuk meminta manfaat yang salah, sebab hal itu tidak merugikan sang teman , dimana prilaku peminta manfaat hanyalah aplikasi dari alasan nomor 4 yaitu Power. Jadi sangat sempitlah bila asas manfaat itu dianggap negatif .

Namun sebagaian dari kita mungkin merasa bahwa kita berteman memang karena rasa tulus. Memang benar itulah yang penting. Tapi siapakah yang bisa mengukur rasa tulus itu? Yang bisa ya kita sendiri karena peniilaian rasa tulus bersifat subjektif.

Rasa tulus dalam pertemanan artinya adalah kondisi dimana anda memberi manfaat kepada orang lain tanpa merasa dirugikan atau merasa dimintai manfaat. Rasa tulus akan timbul dalam pertemanan seiring berjalannya waktu. Ketika kita merasa nyaman dalam berteman lambat laun rasa tulus akan timbul,. Jadi bagi anda yang merasa dirugikan oleh teman anda, sesungguhnya anda belumlah menganggapnya teman atau mungkin orang itu bukanlah teman yang anda inginkan.

Intinya ASAS MANFAAT itu memang nyata terjdai dalam pertemanan dan TIDAKLAH BURUK sepanjang tidak merugikan atau berlebihan. Contoh asas manfaat yang merugikan dan berlebihan , misalnya mendekati orang yang pandai agar dikerjakan tugas tugasnya, mendekati teman yang kaya agar ditraktir makan, dan prilaku prilaku lain yang sifatnya egois.

Lalu berarti tidakah ada group / kelompok yang terbentuk bukan karena asas manfaat ? Jawabnya ada. Pertemanan jelas bukan, karena syarat dengan asas manfaat. Keluarga adalah jawabnya, dan tidaklah lupa rasa cinta kepada seseorang, itulah kelompok kelompok individu yang ada bukan karena asas manfaat. Singkatnya kelompok pertemanan terbentuk karena Asas Manfaat sedangkan keluarga atau kekasih terbentuk karena rasa cinta/ tulus.

Untuk memudahkan pemahaman, simak tabel dibawah:



Kelompok

Penyebab Terbentuk

Akibat

Contoh

Pertemanan

Kebutuhan akan “manfaat” baik disadari atau tidak.

Menghasilkan rasa tulus/cinta dan pemenuhan “manfaat”

A adalah anak baru di SMP Merpati, dia pasti akan mencari teman agar merasa tidak sendiri / memperoleh rasa aman.

Keluarga

Rasa cinta/tulus

Berbagi dan pemenuhan “manfaat”

Yourself.

Kekasih (tidak sama dengan pacar)

Rasa cinta/tulus

Berbagi dan pemenuhan “manfaat”

T mencintai T2, maka T akan dengan rela membantu T2 dalam menyelesaikan tugas tugas T2. Karena itu adalah akibat dari rasa cinta.


Jadi bertemanlah untuk memberi dan mendapat manfaat. Sebab ASAS MANFAAT itu baik.


Dedicated for all my friend especially my dearest friend aReMA.

Minggu, 02 Maret 2008

Semangat !!!

Today, i know what i have to do
to reach my goal.
i just need to be focus...

Thank you God...
You give me passion of science

Impossible is nothing for You, Jesus
that's why i have passion to make my dream comes true

Today i start my plan in Jesus....

March 02 2008 10:53 PM

Selasa, 15 Januari 2008

by JOHN D. BECKETT

DAY 17 TRUTH: THE KEY TO FREEDOM

Why does truth matter?

If we were given the opportunity to sit down with the Apostle Paul over a good cup of coffee, and if we were to ask him what energized him to press on, here's what I believe he would tell us: "I do what I do, and endure what I endure because ‘God, our Savior ... desires all men (every person on earth) to be saved and to come to the knowledge of the truth'" (1 Timothy 2:3,4).

We might then ask Paul to comment on the question that has haunted men and women through the ages: "What is truth?" This great scholar and thinker would say, "Here is the essence of truth: ‘There is one God and one Mediator between God and men, the Man Christ Jesus'" (v.5).

Dare we challenge Paul at this point? "Can you really reduce the concept of truth to that one phrase?" "Yes," he would reply, "This is bedrock. Get this and the rest will follow. There aren't multiple gods. There is One, and He is a God Who can be known. There aren't multiple ways to the one true God. In fact, Jesus Himself, without a hint of arrogance said, ‘I am the way, the truth and the life. No one comes to the Father except through Me'" (John 14:6). Ultimately, here is what Paul is telling us: Truth is not just a set of beliefs, as in other religions or philosophies. Truth is a Person. We encounter the truth as we encounter Christ.

I believe we must contend for the truth. Here's why:

  • Truth brings stability. Absent truth, the world is unhinged, leaving only chaos. Isaiah said, "Truth is fallen in the street" (Isaiah 59:14). This happens when we run from the truth, rather than embrace it.
  • Truth is freedom. Jesus said, "You shall know the truth, and the truth shall make you free" (John 8:32). Truth matters supremely because, in the end, without truth there is no freedom. (For example, consider how repressive regimes that deny their people basic freedoms must prop themselves up by distortions and lies.)
  • Truth can be learned, actually imparted. Jesus, looking to the day the Holy Spirit would come in power, said, "When He, the Spirit of truth, has come, He will guide you into all truth" (John 16:13). Isn't it reassuring to know that the Holy Spirit is with you on the path of life as your guide to all truth?
  • Truth is the surest way to avoid deception. Deception is your number one future danger. Jesus said, "Take heed that no one deceives you. False christs and false prophets will rise and show great signs and wonders to deceive, if possible, even the elect" (Matthew 24:4, 24). Paul said the days ahead would be marked by the "working of Satan, with all power, signs and lying wonders, and with all unrighteous deception among those who perish because they did not receive the love of the truth" (2 Thessalonians 2:9,10). As a friend of mine says, "The only safeguard against deception is a passionate love for the truth."

Does this battle for the truth impact your world? If you are a high school student, you know lying and cheating are an art form, and that truth doesn't seem to matter. If you're on a college or university campus, you know the very idea of objective truth -- that truth can be known -- is scoffed at. If you're in business, you know truth is too often compromised. How evident this was at Enron, where many of the "best and brightest" in leadership shunned truth in their daily work.

Truth matters. You're not for sale, and truth, for you, is not for sale. In fact, truth could even be worth dying for!


Key Scripture Buy the truth and do not sell it (Proverbs 23:23).
Key Thought "Living in truth is the secret of living free" (Os Guinness, at a Veritas Forum at Stanford University). The truth sets me free.
Copyright © 2006 by John D. Beckett

;;